ISLAM DAN BUDAYA LOKAL

Oleh: M. Asrofi

Agama dan budaya merupakan unsur-unsur yang ada dalam masyarakat dan keduanya ini tidak bisa dilepaskan dari suatu masyarakat. Karena agama dan budaya saling mempengaruhi. Ketika ajaran agama masuk dalam sebuah masyarakat yang berbudaya, maka akan terjadi tarik menarik antar keduanya. Demikian juga halnya dengan agama Islam. Sebab proses turunya dalam pengembangan yang dibawa rasullulah pada masyarakat Arab yang memiliki adat-istiadat dan tradisi secara turun-temurun Dan penyampaian Islam pun mengalami penyesuaian dengan masyarakat arab.
Pernah ku dengar ada hal yang menarik dalam wacana tentang budaya dan Islam. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu rasanya hanya geli mendengarnya. Sekelompok orang mengatasnamakan Islam selalu mmembid’ahkan segala sesuatu yang ada jika itu tidak ada di Negara Arab. Kata mereka Islam itu identik dengan jenggot, tapi hal menarik lagi bahwa Abu Jahal juga berjenggot. Islam itu berjubah tetapi Abu Jahal, Abu Sofyan dan kawan-kawanya juga selalu menggunakan jubah. Lalu manakah yang budaya dan manakah yang ajaran Islam?
Perlu adanya analisa yang lebih teliti dalam membedakan mana ajaran Islam dan mana yang budaya. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana sebenarnya korelasi antara budaya dengan Islam?
Hubungan antara agama dengan kebudayaan merupakan sesuatu yang ambivalen. Agama (Islam) dan budaya mempunyai Indepedensi masing-masing, dalam keadaan yang seperti ini tidak menghalangi kemungkinan manifestasi kehidupan beragama dalam bentuk budaya.
Hubungan yang seperti ini memang seperti terjadi adanya pertentangan. Kadang-kadang memang ada yang mempermasalahkan tentang peleburan antara agama dan budaya ini. Mereka berkeyakinan bahwa agama harus berdiri sendiri tanpa adanya campuran apapun.
Agama Islam sebagai agama yang universal (rahmatan lil’alamiin), memiliki sifat yang adaptable dan capable untuk tumbuh di segala tempat dan waktu. Walaupun berhadapan budaya local diseluruh penjuru dunia, keuniversalan islam tidak akan terkurangi sedikitpun. Tradisi Islam di daerah Jawa akan berbeda dengan tradisi Islam di daerah Sumatra, Tradisi di daerah Sumatra akan berbeda dengan tradisi Islam di daerah Kalimantan juga sulawesi. Walaupun tradisi yang berbeda-beda tetapi Islam tetap menjadi pedoman.
Hal ini dapat kita belajar pada sejarah masuknya Islam di Indonesia. Islam masuk dan menyebar luas di seluruh pelosok nusantara tanpa adanya kekerasan sedikitpun. Hal yang demikian karena metode dakwah yang digunakan tanpa kekerasan tetapi melalui akulturasi budaya. Dan budaya merupakan aspek yang pas dalam pengembangan Islam di Indonesia. Karena budaya menyentuh seluruh aspek dan dimensi cara pandang, sikap hidup serta aktualisasinya dalam kehidupan manusia. Selain itu gerakan kultural lebih integratif. Para penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan Wali Songo telah terbukti berhasil mengislamkan seluruh Jawa tanpa adanya tumpah darah dan damai dan yang lebih penting adalah masyarakat tanpa merasa diislamkan.
Kunci dari kesuksesan dalam menyebarkan ajaran Islam adalah karena beliau melihat celah yang ada pada masyarakat pada saat itu yaitu melalui kebiasaanya atau bisa dikatakan melalui budaya. Beliau mendialogkan antara ajaran Islam dengan budaya lokal.
Dalam pembahasan antara Islam dan budaya lokal sudah banyak sekali tetapi pembahasan hal seperti ini masih saja tetap menarik karena ada beberapa faktor diantanya, Pertama sikap akomodatif dan kooperatif ajaran Islam terhadap budaya dan tradisi lokal sangat dinamis. Hal ini disebabkan memang tuntutan akan ajaran itu sendiri agar bisa diterima masyarakat yang plural yaitu dengan mencari satu kesepahaman yang ada di masyarakat yaitu budayanya. Kedua, saat ini banyak kalangan umat Islam sendiri yang menganggap dirinya paling “Islam” sangat gencar menyerang ritual keagamaan yang ada saat ini seperti tahlilan. Yang notabene bagian dari dari budaya dan fungsinya jauh lebih manfaat lebih dari hanya sekedar ritual keagamaan yaitu sebagai wadah untuk bersosialisasi dan berinteraksi dalam mengkonsolidasikan problem-problem yang ada disekitarnya.

Korelasi Islam Dan Budaya
Ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli Antropogi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life, dan kelakuan. Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa jangkauan kebudayaan sangatlah luas. Untuk memudahkan pembahasan, Ernst Cassirer membaginya menjadi lima aspek: (1) Kehidupan Spritual (2) Bahasa dan Kesustraan (3) Kesenian (4) Sejarah (5) Ilmu Pengetahuan.
Manusia mempunyai kemampuan untuk berfikir juga berkarya yang pada hasil pikiran dan karyanya disebut dengan kebudayaan. Dan hasil dari pikiran manusia inilah yang kemudian menjadi tata cara dan prilaku manusia. Dalam berfikir dan juga berkarya manusia tidak ada yang bebas sama sekali. Pengalaman-pengalaman dan kondisi masyarakat selalu mengintervensi dari cara berfikir manusia itu sendiri. menurut Hegel, keseluruhan karya sadar insani yang berupa ilmu, tata hukum, tatanegara, kesenian, dan filsafat tak lain daripada proses realisasi diri dari roh ilahi. Sehingga dalam hasil pikiran yang menjadi tradisi dan hasil pikiran manusia pada dasarnya selalu berasal dari realisasi dari tuhanya.
Islam agama yang universal (rahmatal lil ‘alamiin) dan inilah yang menjadi karakteristiknya. Menurut Irfan Salim ada tujuh yang menjadi karakteristik Islam: (1) Rabbaniyah, (2) Insaniyah (Humanistik), (3) Syumul (totalitas) yang mencakup unsur keabadian, universalisme dan menyenteh seluruh aspek manusia (ruh, akal, hati, dan badan), (4) Wasathiyah (moderat dan seimbang), (5) Waqi’iyah (realitas), (6) Jelas dan gamblang (7) Integrasi antara al-Tsabat al-Murunah (permanen dan elastis).
Walapun Islam agama yang universal yang bisa menembus batas waktu dan zaman (shalihun li kulli zaman wa makan), tetapi tidak bisa dinafikan bahwa unsur arab memiliki keistimewaan dalam Islam. Menurut Dr. Imarah hal ini dapat dipahami, Islam diturunkan kepada Muhammad bin Abdullah keturunan bangsa Arab Quraish. Mukjizat yang diturunkan kepada beliau pun yang berupa Al-qur’an diturunkan dengan bahasa arab yang nilai estetika sastranya dapat mengungguli para sastrawan terkemuka dari Arab sepanjang sejarah. Dan untuk memahami dan menguasai Al-qur’an sangat sulit sekali kecuali dengan bahasa Arab. Bahasa arab pun dalam hal ini perlu menguasai sastra Arab seperti Nahwu dan Sharaf. Jadi tidak secara mudah Al-qur’an ditafsirkan. Bisa berbicara Arab belum tentu menguasai Nahwu Sharaf dan belum tidak bisa begitu saja menafsiri Al-qur’an dalam rangka memahami dan menguasai Al-qur’an. Implikasinya, Islam menuntut pemeluknya jika ingin menyelami dan mendalami makna Al-qur’an, maka hendaknya “mengarabkan diri”. Mengarabkan diri bukan berarti tuntutan segala sesuatu meniru Arab tetapi bagaimana penguasaan terhadap bahasa sastra Arab dalam rangka untuk mencari substansi nilai-nilai ajaran dari Islam.
Memang sebuah kenyataan, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.
Dengan demikian, Islam telah berperan sebagai pendorong manusia untuk “berbudaya “. Dan dalam satu waktu Islamlah yang meletakkan kaidah, norma dan pedoman. Sampai disini, bisa dikatakan bahwa kebudayaan itu sendiri, berasal dari agama.

Dari Tradisi ke Tradisi
Al-mufahazat ‘ala qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik), nampaknya inilah yang menjadi pedoman dan menjadi inspirasi pemikiran akulturasi Islam dengan budaya lokal. Memang inilah fakta yang ada di Indonesia. Islam mampu mengakomodasi seluruh budaya lokal menjadi kekuatan dan alat untuk mengembangkan Islam. Dan harus diakui sejarah bahwa sekarang umat Islam terbesar di seluruh dunia ada di Indonesia dan ini tak lepas adanya akulturasi ajaran agama (Islam) dengan nilai-nilai lokal.
Lir-ilir, lir-ilir
tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako... surak hiyo...

Sayup-sayup bangun (dari tidur)
Tanaman-tanaman sudah mulai bersemi
Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru
Anak-anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu
Walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang koyak disisihkan
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore
Selagi sedang terang rembulannya
Selagi sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo...
Maksudnya:
Makin subur dan tersiarlah agama Islam yang benar, yang disiarkan oleh para aulia dan mubaligh. Hijau adalah warna dan lambang agama Islam. Dikira pengantin baru, maksudnya, agama Islam begitu menarik dan kemunculannya yang baru diibaratkan bagaikan pengantin baru. Cah angon atau penggembala, diibaratkan dengan penguasa yang ‘menggembalakan’ rakyat. Para penguasa itu disarankan untuk segera masuk agama Islam (disimbolkan dengan buah belimbing yang mempunyai bentuk segi lima sebagai lambang rukun Islam). Walaupun licin, susah, tetapi usahakanlah agar dapat masuk Islam demi mensucikan dodot (Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi orang Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan). Pakaianmu, (yaitu) agamamu sudah rusak, karena sudah tidak sesuai lagi moral-moral pemeluk agama dengan agama yang diyakininya. Agama yang sudah rusak itu jahitlah (perbaiki), sebagai bekal menghadap Tuhan. Selagi masih hidup, masih ada kesempatan bertobat. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Tuhan.
Ini merupakan salah satu contoh bagian kebudayaan Jawa yang telah bercampur dengan nilai-nilai Islam. Budaya-budaya yang dahulunya sudah ada kemudian budaya itu tidak ditentang tetapi budaya itu ditinjau kembali dan dikembangkan menjadi budaya baru yang lebih sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.

Wallahu A'lam Bis Showab

0 komentar:

Poskan Komentar